Posted by : Unknown Kamis, 01 Mei 2014

1.      Microsft: PC Merek Terkenal Juga Rentan "Malware"
Antara – Rab, 27 Feb 2013
Jakarta (ANTARA) - Sejumlah PC merek terkenal seperti Acer, Asus, Dell, HP, Lenovo dan Samsung diketahui terinfeksi perangkat perusak atau sering disebut "malware" (malicious software) yang disebarkan melalui install Windows bajakan, demikian hasil studi forensik Microsoft.
"Jika pelanggan tidak dapat membuktikan komputer yang dibeli dengan pre instal lisensi Windows resmi, maka memicu risiko terkena virus dan spyware yang potensi korupsi data, pencurian, dan kerugian keuangan meningkat secara eksponensial," kata Tony Seno Hartono, National Technology Officer Public Sector Microsoft Indonesia, dalam siaran pers di Jakarta, Rabu.
Menurut Tony, studi penelitian Tim Microsoft Security Forensics awalnya dilakukan pada Desember 2012 pada 282 total komputer dan DVD, dan menemukan sebanyak 69 persen terinfeksi malware, meningkat enam kali dari studi periode sebelumnya.
Diyakini bahwa baik software palsu atau pun malware bukan berasal atau terinstal dari pabrikan PC tersebut, namun berasal dari komputer yang dijual dengan sistem operasi non Windows.
Kemudian diganti oleh individu yang berada pada rantai penjualan atau toko-toko yang melakukan duplikasi ilegal dan distribusi software bajakan."Banyak yang beranggapan bahwa membeli PC merek ternama menjamin keamanan dan kenyamanan dalam pengalaman berkomputasi. Mereka tidak berpikir dua kali tentang software yang dijual dengan komputer, apakah itu asli atau bajakan," ujar Tony.
Untuk itu tambahnya, pelanggan harus berhati-hati ketika mendapat penawaran-penawaran menarik ketika membeli komputer, karena umumnya malware tidak dapat diperbaiki hanya dengan menggunakan antivirus.
Masih menurut studi Microsoft tersebut, tingkat infeksi dari software bajakan bervariasi secara signifikan di seluruh Asia Tenggara, dimana sampel dari Filipina memiliki tingkat infeksi malware terendah, namun dua dari lima komputer dan DVD teruji terinfeksi.
Khusus di Indonesia, sebanyak 59,09 persen dari sampel HDD (hard disk drive) terinfeksi oleh malware, sedangkan 100 persen dari sampel DVD terinfeksi oleh malware. Total dari pengujian Microsoft mengungkapkan bahwa dari 5.601 kasus dan 1.131 unik strain dari infeksi malware dan virus ada di setiap sampel yang diambil di Asia Tenggara termasuk virus "Zeus" Trojan yang sangat berbahaya.
Zeus merupakan trojan pencuri password yang dikenal untuk menggunakan "keylogging" dan mekanisme lain untuk memonitor aktivitas online pengguna. Keyloggers merekam tiap keystroke pengguna dengan tujuan mencuri informasi personal, termasuk account username dan pssword.
Umumnya tambah Tony, pelaku kriminal menggunakan cara ini untuk mencuri identitas korban, menarik uang dari akun bank mereka, melakukan pembelian secara online dengan menggunakan informasi personal korban dan mengakses akun pribadi lainnya.
2.      MIAP: Tiap Software Bajakan Terkandung 2.000 Malware
Ardhi Suryadhi - detikinet
Kamis, 14/03/2013 16:41 WIB
Jakarta – Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) mengungkapkan setidaknya terdapat 1.900 – 2.000 malware (program jahat) yang terdapat dalam sebuah piranti lunak computer dengan system operasi Dan program keamanan bajakan. Hal itu merujuk pada hasil studi forensic computer di lima Negara di Asia Tenggara. Termasuk Indonesia di awal tahun 2013 oleh para ahli forensik  komputer. Dari sample 216 komputer yang dibeli di beberapa toko berbeda di lima negara tersebut sebanyak 100 komputer dibeli di Indonesia.
 “ Dari hasil forensiknya sebanyak 59.06% mengandung malware, oleh karena terinstall software palsu. Ini sangat menghawatirkan.” Tegas Justisiari P. Kusumah. Sekretaris Jenderal MIAP di sela-sela peluncuran Program Be Safe With Genuine di Jakarta. Kamis (14/3/2013)
Menurut dia ribuan malware tersebut terdiri dari beragam spyware, yang secara otomatis akan mencuri data pribadi setiap pengguna komputer dengan sistem operasi dan sistem keamanan  yang ilegal.
Dia mencontohkan, ketika konsumen melakukan transaksi online banking dengan komputer atau laptop yang di support software bajakan. Spyware akan mencuri data pribadi mulai dari password, data keuangan dan lainnya. Kemudian di kirimkan ke si pembuat malware tersebut. Demikian juga dengan data-data kartu kredit.
Ini sudah terbukti ketika sistem IT salah satu bank besar kita beberapa tahun lalu dicloning. Ini hasil dari serangan spyware.” Kata Justisiari mengingatkan. Singkat kata lanjutnya, serangan malware ini telah mencakup lintas dimensi. Tidak lagi hanya menyangkut pelanggaran hak cipta. “ contoh sekarang ada software yang bisa mengaktifkan kamera laptop. Ini berbahaya bagi anak-anak muda yang suka download software gratis. Ini berbahaya ketika ada resiko pedofilia misalnya.” Papar justisiari.
Maka dari itu, MIAP menghimbau para pelaku bisnis, lembaga negara, hingga konsumen sebagai pengguna akhir harus berhati-hati, aktif, dan secara sadar memperdagangkan, membeli, dan menggunakan komputer yang di operasikan oleh sistem yang legal dan terproteksi dengan antivirus yang egal, dan terkoneksi dengan jaringan yang legal pula.
Terkait hal itu, Direktur Penyidikan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementrian Hukaum dan HAM. Mochamad Adri mengatakan, pihaknya terus melakukan  penegakan hukum terkait dengan peredaran  produk bajakan yang mengkhawatirkan ini.
Dia menyebutkan , pada februari 2013 lalu, bersama Timnas HKI, pihaknya melakuakan sidak di kawasan niaga Glodok dan berhasil mengamankan produk ilegal sebanyak 14 truk. “ itu termasuk di dalamnya adalah cakram bajakan baik musik maupun sotfware bajakan. Dan nilai kerugiannya ada yang sebut hingga Rp.21 miliyar. Karena satu truk itu memuat sebanyak 4 ton produk bajakan yang kita sita.” Ungkap Adri di kesempatan yang sama.
Sementara Dirjen HKI Kementrian Hukum dan HAM, Ahmad M. Ramli mengatakan, melalui program Be Safe With Genuine yang di luncurkan bersama MIAP dan Mabes Polri, adalah upaya untuk mendorong masyarakat untuk itdak membeli barang bajakan.
“Konsumen beli karena ada barang murah, makanya kita akan giat lakukan law  envorcement ke produser.” Kata Ramli. Dia mengakui seringkali konsumen tidak menyadari bahwa barang palsu sangat berisiko di kemudian hari. Demikian juga dengan beragam transaksi di dunia online. “ Padahal toko online itu lebih banyak palsu.” Pungkasnya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © JENIS KEJAHATAN CYBERCRIME -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -